Sebanyak 50 peserta dibagi ke dalam lima kelompok dan dipandu langsung oleh Iin Arlina untuk mempraktikkan pembuatan aneka penganan berbahan dasar sawit.
Sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, mereka berhasil menghasilkan bolu sawit, dodol sawit, bangkit sawit, dan berbagai kreasi lainnya.
Antusiasme peserta terlihat jelas.
Mega, pemilik UMKM Corn Stik By Mega dari Kasang Pudak, mengaku mendapat perspektif baru mengenai sawit.
“Workshop ini membuat saya tertampar. Kita hidup di daerah penghasil sawit, tapi saya tidak pernah berpikir bahwa sawit bisa menjadi kuliner yang enak seperti ini,” katanya.
Hal serupa dirasakan Nora Ziani yang datang dari Kabupaten Batanghari.
“Ini langka. Baru kali ini saya dengar istilah bolu sawit,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, pengalaman mencicipi hasil karya sendiri menjadi bukti bahwa peluang usaha berbasis sawit sangat menjanjikan.
“Semua bolu yang kami buat rasanya enak. Artinya potensinya luar biasa untuk dikembangkan menjadi usaha,” katanya.
Tak hanya kaum perempuan, pelaku usaha laki-laki juga ikut bersemangat.
Ade Putra, pemilik Ziade Donat dari Sengeti, Muaro Jambi, bahkan sudah merancang inovasi baru.
“Saya ingin membuat donat berbahan saripati sawit di Muaro Jambi. Saya tidak mau kalah dengan ibu-ibu,” ujarnya sambil tertawa.
Mengubah Stigma, Membuka Peluang
Ketua Panitia Pelaksana, Warsito, berharap peserta mampu mengembangkan usaha berbasis sawit setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya berharap muncul berbagai produk baru seperti bolu sawit, dodol sawit, bangkit sawit, maupun inovasi lainnya yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, CEO Elaeis Media Group, Abdul Aziz, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengubah stigma negatif terhadap sawit.
“Selama ini sawit sering dikaitkan dengan berbagai isu negatif. Padahal sawit memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat. Dari akar sampai daun, semuanya bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomis,” ujarnya.
Menurut Aziz, Indonesia memiliki sekitar 17,3 juta hektare perkebunan sawit dengan produksi mencapai 45 juta ton CPO per tahun dan kontribusi devisa lebih dari Rp600 triliun.
Namun potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan melalui hilirisasi.
“Kalau bicara hilirisasi, produk kuliner berbahan sawit memiliki ceruk pasar yang sangat menarik,” katanya.
BPDP Dorong Sawit Naik Kelas
Dukungan terhadap pengembangan produk turunan sawit juga datang dari BPDP.
Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan bahwa kampanye positif tentang sawit harus diwujudkan dalam manfaat nyata bagi masyarakat.
“Tidak boleh berhenti pada kampanye. Harus benar-benar bisa dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Menurut Helmi, BPDP terus mendorong hilirisasi melalui berbagai penelitian dan inovasi.
“Kami memiliki banyak hasil riset berbasis sawit, mulai dari bahan rompi antipeluru, helm, hingga berbagai produk konsumen. Banyak yang sudah dikomersialisasikan oleh UMKM,” katanya.
Ia berharap dari workshop tersebut akan lahir pelaku usaha baru yang mampu mengembangkan produk berbasis sawit hingga menembus pasar ekspor.
Menjelang sore, berbagai hasil karya peserta tersusun rapi di atas meja. Bolu sawit, dodol sawit, dan bangkit sawit menjadi bukti bahwa sawit memiliki wajah lain yang selama ini jarang diketahui publik.
Dari sebuah ruang pelatihan di Kota Jambi, sawit kembali menunjukkan potensinya bukan hanya sebagai komoditas perkebunan dan bahan baku minyak goreng, tetapi juga sebagai sumber kreativitas, inovasi, dan peluang ekonomi baru bagi UMKM Indonesia.(*)











