Melalui forum ini saya berharap kita terus belajar dari setiap pengalaman dan menjadikannya sebagai dasar perbaikan berkelanjutan. Forum seperti ini juga perlu dilaksanakan secara rutin agar budaya keselamatan kerja semakin mengakar di lingkungan kerja,” ujarnya.
Sementara itu, Junior Manager HSSE PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Jambi, Felencia Novita Gaspersz, menjelaskan bahwa budaya keselamatan harus dibangun melalui upaya pencegahan risiko yang konsisten.
Hal tersebut dilakukan melalui penerapan Life Saving Rules, penggunaan alat pelindung diri sesuai standar, penguatan Stop Work Authority (SWA), kesiapsiagaan tanggap darurat, hingga pengawasan aktif terhadap pekerjaan berisiko tinggi.
Menurutnya, keselamatan harus tercermin dalam perilaku kerja sehari-hari, bukan hanya sebatas pemenuhan administrasi.
Dalam implementasinya, Pelindo Regional 2 Jambi secara konsisten menjalankan berbagai program budaya K3, antara lain Management Walk Through (MWT) setiap bulan oleh jajaran manajemen, safety briefing pada awal pekerjaan dan setiap pergantian shift, toolbox meeting, apel pagi, sore, dan malam sebagai sarana komunikasi keselamatan,
safety patrol berkala, emergency drill setiap tiga bulan, safety induction bagi pekerja maupun tamu sebelum memasuki area operasional, penerapan Stop Work Authority (SWA), audit K3 internal dan eksternal setiap tahun, serta peningkatan kompetensi melalui tenaga Ahli K3 yang telah memiliki sertifikasi sesuai bidangnya.
Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa budaya keselamatan di Pelindo Regional 2 Jambi tidak hanya bertumpu pada kepatuhan terhadap prosedur, tetapi juga pada kepemimpinan yang aktif hadir di lapangan, kedisiplinan setiap individu, serta komitmen untuk terus belajar dari setiap evaluasi operasional.
Melalui pendekatan tersebut, setiap pembelajaran menjadi dasar untuk memperkuat mitigasi risiko, meningkatkan kewaspadaan, serta memastikan seluruh aktivitas operasional berjalan secara aman, profesional, dan berkelanjutan.
Bagi Pelindo Regional 2 Jambi, keselamatan bukan sekadar target kinerja, melainkan budaya yang dibangun melalui pembelajaran, kolaborasi, dan kepedulian seluruh insan perusahaan.
Konsistensi tersebut menjadi fondasi dalam mempertahankan budaya Zero Accident sekaligus memperkuat kepercayaan pengguna jasa terhadap operasional pelabuhan yang aman dan berstandar tinggi.(*)











