DaerahEkonomiOpini

Merawat Batanghari yang Sekarat: Menggugat Logika PETI dan Menuntut Keadilan Ekologis

×

Merawat Batanghari yang Sekarat: Menggugat Logika PETI dan Menuntut Keadilan Ekologis

Sebarkan artikel ini

Sungai Batanghari memiliki hak intrinsik untuk tetap bersih dan lestari. Meracuni Batanghari sama saja dengan melakukan tindakan “bunuh diri perlahan” bagi peradaban Jambi. Kita tidak bisa memakan emas ketika air bersih sudah habis.

Belajar dari Belahan Dunia Lain

Jambi bukanlah satu-satunya wilayah yang menghadapi dilema kutukan sumber daya ini. Kita bisa belajar dari negara lain yang berhasil keluar dari lingkaran setan tambang ilegal:

Kosta Rika: Negara ini berhasil mengubah haluan dari ketergantungan pada tambang skala kecil menjadi pelopor Ekoturisme global.

Melalui program Payment for Ecosystem Services (Pembayaran Jasa Lingkungan), mantan penambang dialihkan menjadi penjaga hutan dan pemandu wisata, membuktikan bahwa ekonomi bisa tumbuh tanpa harus membunuh alam.

Peru (Kawasan Madre de Dios): Melalui kombinasi penegakan hukum yang tegas terhadap pemodal besar dan program Formalisasi Tambang ramah lingkungan (tanpa merkuri) bagi masyarakat lokal, mereka perlahan mampu menyelamatkan hutan Amazon dari kehancuran total.

Jalan Keluar: Solusi Integratif dan Berkeadilan

Menyelesaikan sengkarut PETI di Jambi tidak bisa hanya dengan pendekatan represif atau penggusuran semata, karena ada urusan perut masyarakat lokal yang terjebak di dalamnya. Solusinya harus menyentuh akar masalah melalui tiga langkah strategis:

Pertama, Formalisasi Berbasis Kerakyatan. Pemerintah daerah harus tegas menetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang legal, bermitra dengan koperasi lokal, serta melarang keras penggunaan merkuri dan alat berat ekskavator yang merusak struktur sungai. Penambang harus dibina untuk melakukan reklamasi pascatambang.

Kedua, Diversifikasi Ekonomi Berkelanjutan. Negara harus hadir memberikan alternatif mata pencaharian yang menjanjikan, seperti optimalisasi sektor pertanian modern, perikanan darat, dan pemanfaatan potensi karbon hijau yang mulai diakui dunia.

Ketiga, Penegakan Hukum Berkeadilan (Environmental Justice). Hukum jangan hanya tajam memotong rantai paling bawah—yakni para pekerja tambang yang mencari sesuap nasi—tetapi harus berani memenggal “aktor intelektual”, para pemodal besar, penadah emas ilegal, hingga oknum-oknum yang membentengi bisnis haram ini.

READ  Safari Ramadhan, Danrem 042/Gapu Silaturahmi dengan Bupati Bungo

Kesimpulan

Sungai Batanghari adalah saksi bisu kejayaan Kerajaan Melayu kuno. Sungai Batanghari yang jernih bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan hak mutlak anak cucu kita di masa depan.

Sudah saatnya kita berhenti berkompromi dengan perusakan lingkungan atas nama isi perut yang dimanipulasi oleh kepentingan segelintir orang. Hukum harus tegak, alam harus pulih, dan kesejahteraan harus merata. Membiarkan sungai ini mati demi kekayaan fana segelintir orang adalah bentuk pengkhianatan terhadap sejarah dan masa depan anak cucu kita.(*)