DaerahEkonomiOpini

Merawat Batanghari yang Sekarat: Menggugat Logika PETI dan Menuntut Keadilan Ekologis

×

Merawat Batanghari yang Sekarat: Menggugat Logika PETI dan Menuntut Keadilan Ekologis

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wendhy Yanuar Prathama, SH MH (Advokat dan Akademisi)

 

JAMBI, netinfo.id – Wajah Sungai Batanghari hari ini adalah potret memilukan dari sebuah peradaban yang sedang menggadaikan masa depannya. Aliran air yang dahulunya menjadi urat nadi kehidupan, kini mengalir pekat, keruh, dan berwarna coklat tua.

Di bawah permukaannya, racun merkuri dan jutaan ton sedimentasi bergerak perlahan, merusak ekosistem dan mengancam kesehatan makhluk hidup di sepanjang alirannya.

Penyebabnya bukan rahasia lagi: aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang kian masif di Provinsi Jambi.

Pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan hari ini adalah: akankah kehancuran ini terus dibiarkan demi memberi celah bagi segelintir orang untuk mengeruk kekayaan, sementara jutaan masyarakat Jambi hanya kebagian ampas beracunnya?

Tragedi Kepemilikan Bersama

Secara teoritis, apa yang sedang menimpa Sungai Batanghari adalah manifestasi nyata dari “The Tragedy of the Commons” (Tragedi Kepemilikan Bersama) yang digagas oleh Garrett Hardin.

Ketika sebuah sumber daya alam terbuka untuk siapa saja tanpa regulasi yang ketat, individu yang didorong oleh keserakahan akan mengeksploitasinya demi keuntungan pribadi jangka pendek.

Para pemodal dan pelaku PETI meraup miliaran rupiah, membawa pulang emas, dan meninggalkan lubang-lubang menganga serta air raksa di sungai.

Dampak buruknya berupa rusaknya kualitas air, hilangnya ikan, hingga ancaman penyakit minamata harus ditanggung bersama oleh seluruh masyarakat. Ini adalah sebuah bentuk ketimpangan ekonomi-ekologis yang sangat tidak adil.

Menggugat Logika Antroposentrisme

Mengapa kerusakan ini bisa dianggap “lumrah” oleh sebagian pihak? Akar masalahnya ada pada cara pandang filosofis kita yang masih terjebak dalam Antroposentrisme. Kita terbiasa melihat alam semata-mata sebagai objek pemuas keserakahan manusia yang bernilai jika bisa ditiadakan menjadi uang.

READ  Danrem 042/Gapu Cek Langsung Kondisi Pangkalan Yonif TP 844 dan Kompi Senapan B Yonif 142 di Tebo

Sudah saatnya kita bermigrasi menuju Ekosentrisme atau Deep Ecology. Pandangan filsafat ini mengingatkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari jaringan kehidupan itu sendiri.