Surplus ini menunjukkan bahwa daya saing perdagangan Jambi sesungguhnya masih cukup kuat. Benar, struktur ekspornya belum ideal, tetapi kemampuan menjaga surplus berarti Jambi masih memiliki tenaga ekonomi yang bisa dikembangkan.
Dalam bahasa yang lebih lugas: Jambi tidak miskin peluang, Jambi hanya belum sepenuhnya memaksimalkan peluangnya. Dan perbedaan antara daerah yang mandek dan daerah yang melompat sering kali terletak justru pada kemampuan membaca momentum seperti ini.
Soal yang lebih serius justru berada di ranah kebijakan publik dan tata kelola fiskal. Data Statistik menunjukkan bahwa sampai 31 Januari 2026, realisasi pendapatan daerah mencapai Rp1.400,77 miliar, sedangkan belanja daerah baru Rp469,64 miliar, sehingga tercipta surplus Rp931,13 miliar dan SiLPA mencapai Rp1.098,87 miliar.
Angka ini menyimpan ironi yang telanjang. Di satu sisi, ada ruang fiskal. Di sisi lain, belanja pembangunan belum bergerak cukup cepat untuk mengubah angka menjadi kualitas hidup. Karena itu, masalah Jambi hari ini bukan semata kekurangan dana, melainkan keterbatasan dalam mengonversi kapasitas fiskal menjadi lompatan pembangunan.
Kritik ini menjadi semakin penting ketika dihubungkan dengan indikator kesejahteraan. IPM Jambi pada 2025 berada di angka 75,13, masuk kategori tinggi, tetapi analisis ALCo menyebut Jambi masih berada di bawah rata-rata nasional dan kesenjangannya cenderung persisten.
Kemiskinan tercatat 6,89 persen, pengangguran terbuka 4,08 persen, dan kelemahan struktural utama terletak pada daya beli masyarakat serta rata-rata lama sekolah. Ini berarti bahwa pertumbuhan belum otomatis menjadi kesejahteraan yang merata.
Jambi tumbuh, tetapi belum seluruh rakyatnya benar-benar naik kelas. Dan sebuah provinsi tidak akan pernah sungguh-sungguh strategis bila pertumbuhan ekonominya tidak ditopang oleh manusia yang kuat, produktif, dan berdaya beli.
Namun justru dari kombinasi antara kekurangan dan kekuatan itulah asa Jambi menjadi masuk akal. Jambi punya letak geografis yang penting di tengah Sumatra. Ia tidak berada di ujung, melainkan di poros yang memungkinkan koneksi ke berbagai simpul ekonomi di Sumatra bagian tengah dan timur.
Karena itu, masa depan Jambi tidak boleh dibayangkan hanya sebagai daerah penghasil, tetapi sebagai daerah penghubung. Dalam konteks ini, potensi Jambi akan terbuka jauh lebih lebar apabila konektivitas Jalan Tol Trans-Sumatra benar-benar rampung dan terhubung secara efektif dengan pusat-pusat produksi, perdagangan, dan pelabuhan.
Ini memang sebuah analisis prospektif, tetapi sangat masuk akal: ketika biaya logistik turun, waktu tempuh menyusut, dan arus barang makin efisien, maka daerah yang berada di posisi strategis akan memperoleh keuntungan berlipat.
Jambi termasuk daerah yang sangat mungkin diuntungkan oleh skenario itu. Dengan pertumbuhan sektor perdagangan, transportasi, dan pergudangan yang sudah cukup tinggi, Jambi tampak memiliki bibit ekonomi konektivitas yang dapat berkembang lebih besar.
Jika jalan tol dan jaringan logistik regional selesai, Jambi berpeluang berubah dari wilayah yang selama ini lebih banyak dilewati menjadi wilayah yang ikut mengendalikan arus distribusi Sumatra. Dari situlah peran strategis bisa lahir.
Bukan hanya karena Jambi punya sumber daya, tetapi karena Jambi mampu menjadi simpul pertemuan antara produksi, distribusi, dan perdagangan. Dan itu jauh lebih bernilai daripada sekadar menjadi penghasil komoditas.
Karena itu, optimisme terhadap Jambi tidak boleh bersifat romantik, tetapi harus bersifat strategik. Hilirisasi harus dipercepat. Belanja publik harus dibuat lebih tajam, terutama untuk kesehatan, pendidikan, daya beli, dan penguatan ekonomi lokal.
Analisis ALCo sendiri menegaskan perlunya rebalancing fiskal, karena belanja ekonomi yang dominan belum cukup efektif meningkatkan IPM dan kesejahteraan.
Jambi membutuhkan bukan hanya pertumbuhan, tetapi keberanian mengubah orientasi pembangunan. Dari provinsi yang nyaman menjadi pemasok, menuju provinsi yang siap menjadi pengarah.
Pada akhirnya, Jambi memang belum menjadi raksasa ekonomi Sumatra. Tetapi ia memiliki cukup alasan untuk tidak terus-menerus diperlakukan sebagai daerah pinggiran dalam percaturan regional. Dalam beberapa hal Jambi masih tertinggal, itu benar.
Namun dalam beberapa hal lain, Jambi juga unggul: pertumbuhannya relatif baik, surplus perdagangannya kuat, tanda-tanda hilirisasi mulai tumbuh, dan sektor-sektor konektivitasnya mulai bergerak.
Dengan dukungan konektivitas yang makin baik dan kebijakan yang lebih berani, Jambi bukan hanya punya harapan, melainkan punya peluang nyata untuk memainkan peran besar dalam ekonomi Sumatra. Asa itu ada. Tinggal, apakah kita cukup berani mengubahnya menjadi arah.(*)











