Menurutnya, digitalisasi harus berjalan seiring dengan penguatan manajemen risiko dan tata kelola perusahaan yang baik agar pertumbuhan bisnis tetap berkualitas.
Selain itu, Bank Jambi diharapkan terus memperkuat penghimpunan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) sehingga memiliki ruang yang lebih besar untuk menyalurkan kredit secara kompetitif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian (prudential banking).
Keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, likuiditas, dan permodalan menjadi fondasi utama dalam menjaga kinerja yang berkelanjutan.
“Ke depan, Bank Jambi memiliki peluang besar menjadi regional champion di industri perbankan daerah. Dengan fundamental yang kuat, strategi bisnis yang adaptif, serta sinergi yang erat dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha, Bank Jambi dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Jambi sekaligus memperkuat inklusi keuangan di seluruh wilayah provinsi,” kata Laila.
Ia optimistis, apabila penguatan fungsi intermediasi, transformasi digital, dan penerapan tata kelola yang baik terus dijalankan secara konsisten, Bank Jambi tidak hanya akan mencatat pertumbuhan bisnis yang sehat,
tetapi juga semakin mempertegas perannya sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.(*)











