AdvetorialDaerahNewsOpini

Mengejar Asa: Menjadikan Jambi Memiliki Peran Strategis di Sumatera

×

Mengejar Asa: Menjadikan Jambi Memiliki Peran Strategis di Sumatera

Sebarkan artikel ini

Oleh: Pakar Ekonomi Jambi Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.

JAMBI, netinfo.id – Jambi sering diposisikan sebagai provinsi “tengah-tengah” di Sumatera tidak tertinggal Dalam peta ekonomi Sumatra, Jambi sering ditempatkan dalam ruang yang serba tanggung.

Ia bukan provinsi dengan kontribusi ekonomi terbesar, tetapi juga bukan wilayah pinggiran yang sama sekali tak diperhitungkan.

Data menunjukkan kontribusi Jambi terhadap perekonomian Sumatra pada 2025 sebesar 6,66 persen, dengan pertumbuhan ekonomi 4,93 persen, sedikit di atas pertumbuhan Pulau Sumatra yang sebesar 4,81 persen. Posisi ini penting dibaca secara jernih.

Jambi memang belum menjadi lokomotif utama kawasan, tetapi juga jelas bukan gerbong mati. Persoalannya, selama ini Jambi lebih sering dipahami sebagai daerah penyangga, padahal di balik keterbatasannya tersimpan modal yang cukup kuat untuk naik kelas menjadi pemain strategis di Sumatra.

Harus diakui, dalam beberapa aspek Jambi memang masih tertinggal. Struktur ekonominya masih bertumpu kuat pada sektor primer. Pada 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 34,49 persen terhadap PDRB,

sementara pertambangan dan penggalian berkontribusi 13,79 persen. Artinya, hampir separuh fondasi ekonomi Jambi masih bergantung pada eksploitasi sumber daya alam dan produksi primer.

Struktur seperti ini membuat Jambi rawan terhadap gejolak harga komoditas, perubahan permintaan pasar global, dan tekanan eksternal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan dari dalam daerah.

Ketika ekonomi terlalu bergantung pada komoditas, pertumbuhan memang bisa terlihat baik dalam jangka pendek, tetapi daya tahannya terhadap perubahan zaman sering kali rapuh.

Kerentanan itu terlihat dari dinamika ekspor Jambi. Pada Januari–Februari 2026, total ekspor Jambi tercatat sebesar US$308,74 juta, turun dari US$360,91 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

READ  Perluas AHASS Teaching Factory, Sinsen Perkuat Link and Match Industri Otomotif dan SMK Binaan Honda

Penurunan itu terutama dipengaruhi merosotnya ekspor bahan bakar mineral yang turun lebih dari 40 persen secara tahunan pada periode tersebut. Ini menunjukkan bahwa sebagian denyut ekonomi Jambi masih terlalu sensitif terhadap satu-dua komoditas andalan.

Ketika harga atau volume komoditas terguncang, dampaknya langsung terasa pada kinerja perdagangan. Di sinilah kritik utama terhadap ekonomi Jambi harus diletakkan: pertumbuhan ada, tetapi fondasinya belum cukup dalam; surplus ada, tetapi belum seluruhnya lahir dari struktur ekonomi yang matang.

Tetapi membaca Jambi hanya dari sisi kelemahannya adalah ketidakadilan analitis. Dalam beberapa hal penting, Jambi justru menunjukkan keunggulan yang patut diperhitungkan. Pertama, pertumbuhan ekonomi Jambi 4,93 persen pada 2025 lebih baik daripada rata-rata Sumatra yang 4,81 persen.

Ini menandakan Jambi tidak sedang tertinggal dalam laju, meskipun belum dominan dalam ukuran. Kedua, pertumbuhan sektor-sektor tertentu juga menunjukkan dinamika yang sehat. Sektor perdagangan tumbuh 7,76 persen, transportasi dan pergudangan 8,88 persen, informasi dan komunikasi 8,49 persen, dan jasa keuangan 8,77 persen.

Ini penting, karena sebuah daerah tidak akan menjadi strategis hanya dengan mengandalkan sawit, tambang, atau karet. Ia harus menunjukkan gejala tumbuhnya sektor-sektor penghubung, distribusi, layanan, dan ekonomi modern. Dalam hal ini, Jambi sudah memperlihatkan tanda-tanda itu.

Keunggulan lain yang sangat penting adalah arah transformasi ekspor Jambi yang mulai berubah. Pada Januari–Februari 2026, ekspor industri pengolahan menyumbang 54,20 persen dari total ekspor Jambi, melampaui pertambangan yang sebesar 41,24 persen.

Ini bukan sekadar statistik teknis, melainkan sinyal bahwa hilirisasi mulai menemukan bentuknya. Memang proses ini belum mapan, tetapi ia menunjukkan bahwa Jambi tidak sepenuhnya terjebak dalam ekonomi mentah. Ada upaya bergerak dari sekadar penghasil bahan baku menuju daerah yang mulai menciptakan nilai tambah.

READ  OJK Perkuat Transparansi dan Tata Kelola Pasar Modal Sejalan Standar Global MSCI

Jika tren ini dijaga, maka Jambi tidak hanya akan dikenal sebagai pengirim hasil bumi, tetapi sebagai wilayah yang punya kapasitas mengolah, menghubungkan, dan memperdagangkan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Selain itu, Jambi juga memiliki modal eksternal yang tidak kecil. Pada Januari–Februari 2026, neraca perdagangan Jambi masih mencatat surplus sekitar US$279,91 juta.

Editor: redaksi