AdvetorialDaerahEkonomiHeadline

Mangrove Jambi di Persimpangan: Benteng Pesisir yang Terancam, Harapan Ekonomi yang Tersimpan

×

Mangrove Jambi di Persimpangan: Benteng Pesisir yang Terancam, Harapan Ekonomi yang Tersimpan

Sebarkan artikel ini

Melihat potensi mangrove, banyak yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi. Namun sebaliknya, masyarakat pesisir di Provinsi Jambi masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

Data menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di wilayah pesisir masih relatif lebih tinggi yaitu mencapai 9,54% di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan 10,14% di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan juah lebih tinggia dibandingkan rata-rata Provinsi Jambi hanya 7,19%. Hal ini disebabkan oleh pemanfaatan sumber daya mangrove yang belum optimal terutama sumber daya perikanan.

Berikutnya, meskipun tingkat pengangguran di wilayah pesisir relatif rendah, hal ini tidak selalu berarti kondisi ekonomi mereka baik. Banyak masyarakat bekerja di sektor informal, seperti nelayan tradisional atau usaha kecil, dengan tingkat pendapatan tidak menentu dan cenderung rendah.

Dari aspek pendidikan dan kesehatan, masyarakat pesisir masih menghadapi keterbatasan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah pesisir (69,93 dan 67,54) dan jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata tingkat provinsi (73,43).

Akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan masih terbatas. Masalah kesehatan seperti stunting juga masih cukup tinggi, terutama di beberapa wilayah pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Hal ini menunjukkan adanya masalah gizi dan akses pangan, meskipun wilayah pesisir sebenarnya kaya akan sumber protein dari hasil laut.

Mangrove memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung kehidupan masyarakat pesisir. Selain sebagai pelindung pantai, mangrove menjadi sumber kehidupan ekonomi dan berperan dalam mengatasi perubahan iklim.

Namun, kondisi mangrove di Provinsi Jambi saat ini menghadapi berbagai ancaman, seperti kerusakan akibat aktivitas manusia dan tekanan alam. Jika tidak dikelola dengan baik, maka dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap kegiatan usaha masyarakat pesisir.

READ  Kapal Nelayan Tenggelam di Perairan Simbur Naik, Satu ABK Ditemukan Meninggal Dunia

Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan mangrove terpadu dan terintegrasi di antara aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait sangat diperlukan dalam menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain rehabilitasi mangrove, pengembangan ekonomi berbasis mangrove (seperti ekowisata dan produk olahan), serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan.

Dengan pengelolaan yang baik, mangrove tidak hanya akan tetap lestari, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.(*)