Oleh : FIRDAUS, S.E., M.M
Dosen UNIVERSITAS NURDIN HAMZAH
JAMBI, netinfo.id – Kondisi ekonomi Provinsi Jambi dinilai masih berada dalam kondisi cukup baik meskipun menghadapi tekanan dari situasi ekonomi global, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, perang dagang internasional hingga ketidakpastian harga komoditas dunia.
Dosen Universitas Nurdin Hamzah, Firdaus mengatakan, struktur ekonomi Jambi yang masih bergantung pada sektor perkebunan, pertambangan, perdagangan dan konsumsi masyarakat membuat daerah cukup sensitif terhadap gejolak global.
“Secara umum ekonomi Jambi masih cukup baik, tetapi tekanan global tetap perlu diwaspadai. Pelemahan rupiah, perang dagang dan ketidakpastian harga komoditas dunia pasti ikut memengaruhi ekonomi daerah,” ujarnya, Rabu (20/05/26).
Menurut Firdaus, sektor yang paling terdampak oleh pelemahan rupiah adalah sektor yang bergantung pada barang impor, seperti konstruksi, transportasi, perdagangan, industri pengolahan hingga usaha yang membutuhkan alat berat, BBM, suku cadang dan bahan baku dari luar negeri.
“Biaya produksi dan biaya proyek bisa meningkat. Namun di sisi lain, sektor ekspor seperti sawit dan batu bara justru bisa memperoleh keuntungan ketika harga komoditas dunia sedang baik,” katanya.
Ia menjelaskan, tekanan ekonomi juga mulai dirasakan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan tetap, pekerja informal dan pelaku UMKM kecil. Kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi dan biaya produksi dinilai menjadi faktor yang mulai memengaruhi daya beli.
“Masyarakat yang bergantung pada sektor komoditas seperti sawit masih relatif terbantu jika harga jual tetap baik. Tetapi kelompok ekonomi kecil harus mendapat perhatian serius agar daya beli tetap terjaga,” jelasnya.
Terkait investasi, Firdaus menilai investor saat ini cenderung lebih berhati-hati akibat ketidakpastian global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Meski demikian, sektor berbasis komoditas lokal masih memiliki prospek cukup menjanjikan.
“Investasi kemungkinan bergerak lebih hati-hati, terutama sektor yang membutuhkan mesin dan bahan baku impor. Namun sektor perkebunan, pangan dan industri berbasis komoditas lokal masih tetap punya peluang,” ujarnya.











