JAMBI, netinfo.id – Aktivitas logistik di sektor kepelabuhanan kembali menjadi motor penggerak penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Di tengah meningkatnya kebutuhan distribusi barang, peran terminal nonpetikemas semakin krusial dalam menjaga kelancaran arus komoditas strategis yang menopang industri dan perdagangan.
PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas Cabang Jambi mencatat tren kinerja yang positif. Lonjakan aktivitas bongkar muat tidak hanya mencerminkan meningkatnya mobilitas barang, tetapi juga menjadi indikator tumbuhnya aktivitas ekonomi regional yang berdampak hingga tingkat nasional.
Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Jambi, Romi Hasbeni, menegaskan bahwa aktivitas bongkar muat memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Kegiatan logistik di Cabang Jambi mengalami peningkatan, khususnya pada bag cargo, bongkar semen milik Cemindo dan Kumala, serta komoditas curah cair seperti CPO, aspal, kondensat, dan LPG,” ujar Romi, Kamsi (30/04/26).
Data hingga Maret 2026 menunjukkan realisasi trafik mencapai 388.713 ton, meningkat 110,33 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar 284.016 ton. Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya aktivitas curah cair di kawasan Pelabuhan Muara Sabak.
Selain itu, komoditas batubara masih menjadi tulang punggung perekonomian Jambi. Keberadaan berbagai Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) di sekitar pelabuhan semakin memperkuat ekosistem industri berbasis energi di wilayah tersebut.
“Untuk komoditas utama, batubara tetap menjadi penopang perekonomian di Jambi, didukung oleh keberadaan terminal-terminal khusus di sekitar pelabuhan,” tambahnya.
Dari sisi ketenagakerjaan, keberadaan terminal nonpetikemas ini juga memberikan dampak sosial yang signifikan. Sekitar 80 persen tenaga kerja yang terlibat merupakan pekerja lokal dari wilayah sekitar pelabuhan dan Kota Jambi.
Namun demikian, peningkatan aktivitas belum sepenuhnya berdampak pada penambahan tenaga kerja baru.
“Saat ini kebutuhan tenaga kerja masih dapat dikendalikan dengan memaksimalkan SDM yang ada,” jelas Romi dengan singkat.
Dalam mendukung efisiensi biaya logistik, PTP Nonpetikemas mengedepankan digitalisasi layanan dan integrasi sistem. Implementasi sistem Inaportnet, PTOS-M, dan PHINISI memungkinkan proses bongkar muat menjadi lebih cepat, transparan, dan terukur.
“Digitalisasi dan visibilitas real-time memungkinkan pengguna jasa memantau posisi barang secara instan. Ini berdampak langsung pada efisiensi waktu dan biaya logistik,” katanya.
Strategi ini juga diperkuat dengan kolaborasi antar pemangku kepentingan guna menghindari bottleneck di pelabuhan. Koordinasi terpadu dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas distribusi komoditas strategis seperti CPO, semen, dan baja.
Meski demikian, tantangan tetap dihadapi, baik dari sisi global maupun domestik. Regulasi internasional terkait produk ramah lingkungan menuntut komoditas ekspor seperti sawit dan hasil hutan memenuhi standar keberlanjutan yang ketat. Sementara itu, faktor geografis seperti sedimentasi Sungai Batanghari turut membatasi kapasitas kapal yang dapat bersandar.
Di tengah tantangan tersebut, PTP Nonpetikemas Cabang Jambi terus menggenjot strategi pemasaran dan peningkatan layanan untuk memperluas pangsa pasar. Target tahun 2026 diarahkan pada peningkatan throughput melalui pendekatan aktif kepada pemilik kargo.
“Kami berkomitmen meningkatkan produktivitas dan pelayanan melalui strategi pemasaran aktif serta optimalisasi fasilitas yang ada,” ungkap Romi.
Sebagai bagian dari Pelindo Multi Terminal, PTP Nonpetikemas juga menempatkan kepuasan pelanggan sebagai prioritas utama. Evaluasi layanan dilakukan secara berkala melalui survei kepuasan pelanggan guna memastikan perbaikan berkelanjutan.
“Feedback dari pengguna jasa menjadi dasar kami dalam meningkatkan kualitas pelayanan ke depan,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, PTP Nonpetikemas menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari penguatan ekosistem maritim nasional.
“Kami ingin mewujudkan jaringan ekosistem maritim yang terintegrasi untuk mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan,” tutup Romi.(*)











