AdvetorialPendidikan

ISMI Jambi: Intelektual, Budaya dan Tantangan Relevansi dalam Pembangunan Daerah

×

ISMI Jambi: Intelektual, Budaya dan Tantangan Relevansi dalam Pembangunan Daerah

Sebarkan artikel ini
Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP Akademisi UIN STS Jambi.

Keberagaman sosial yang terbentuk menjadi modal sekaligus tantangan. Dalam situasi tersebut, nilai Melayu seperti musyawarah, gotong royong dan kesantunan bekerja sebagai mekanisme sosial yang menjaga kohesi di tengah perubahan.

Nilai budaya tidak berdiri sebagai simbol masa lalu, tetapi berfungsi sebagai sistem etika sosial yang menopang kehidupan masyarakat modern. Di titik ini, budaya menjadi instrumen sosial, bukan sekadar identitas.

Pembangunan manusia tetap menjadi isu sentral. Indeks Pembangunan Manusia Jambi 2025 mencapai 75,13, menunjukkan perbaikan bertahap. Namun angka tersebut tetap menandai pekerjaan lanjutan pada sektor pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat.

Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebesar 19,8 persen berdasarkan SSGI, sementara di Provinsi Jambi berada pada kisaran sekitar 18 persen pada rilis terakhir yang tersedia. Angka ini menunjukkan bahwa kualitas generasi masa depan masih membutuhkan intervensi lintas sektor yang konsisten dan berkelanjutan.

ISMI memiliki ruang kontribusi yang luas, literasi publik, penguatan generasi muda, kewirausahaan, pendampingan UMKM, hingga pengembangan budaya riset. Kontribusi ini bekerja dalam horizon jangka panjang, bukan hasil instan.

Pembangunan daerah tidak pernah berdiri sendiri. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat dan komunitas lokal membentuk satu ekosistem yang saling mengisi. ISMI bergerak dalam ruang tersebut sebagai bagian dari jaringan pengetahuan pembangunan.

Ekonomi Jambi 2025 tumbuh 4,93 persen dengan PDRB mencapai Rp. 349,66 triliun berdasarkan data BPS Provinsi Jambi. Angka ini menunjukkan ketahanan ekonomi daerah, meskipun tantangan pemerataan manfaat pembangunan tetap menjadi agenda lanjutan.

Pertumbuhan ekonomi tanpa kedalaman sosial berpotensi menghasilkan ketimpangan baru yang lebih halus dan sistemik. Dalam konteks ini, gagasan berbasis pengetahuan menjadi instrumen koreksi yang penting.

READ  DPRD Tanjabtim Setujui LKPJ Bupati 2025, Fraksi-Fraksi Sampaikan Catatan Strategis untuk Perbaikan Daerah

Pelantikan pengurus ISMI Jambi menandai fase awal pengujian relevansi organisasi dalam ruang pembangunan. Momentum tersebut tidak berhenti pada pembentukan struktur, melainkan pada kemampuan menghadirkan dampak yang terukur bagi masyarakat.

ISMI Jambi kini memasuki ruang ekspektasi public, membuktikan eksistensinya melalui kerja intelektual yang nyata, bukan sekadar legitimasi kelembagaan.

Semoga semangat pengabdian ini terus tumbuh dan menguat dalam kerja-kerja nyata ke depan. Ukuran keberhasilan organisasi intelektual tidak ditentukan oleh banyaknya wacana, melainkan oleh jejak perubahan yang dapat ditelusuri dalam cara masyarakat berpikir, bekerja dan berkembang.(*)