AdvetorialPendidikan

ISMI Jambi: Intelektual, Budaya dan Tantangan Relevansi dalam Pembangunan Daerah

×

ISMI Jambi: Intelektual, Budaya dan Tantangan Relevansi dalam Pembangunan Daerah

Sebarkan artikel ini
Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP Akademisi UIN STS Jambi.

JAMBI, netinfo.id – Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi periode 2026–2030 tidak berhenti sebagai agenda organisasi.

Momentum tersebut membuka kembali pertanyaan klasik tentang posisi intelektual dalam arsitektur pembangunan daerah, sejauh mana gagasan benar-benar bertransformasi menjadi daya dorong kebijakan dan perubahan sosial.

Pembangunan Jambi bergerak dalam dua wajah sekaligus. Satu sisi menunjukkan kemajuan melalui pertumbuhan ekonomi dan perbaikan indikator sosial.

Sisi lain menyisakan pekerjaan struktural yang menuntut kontribusi pemikiran lebih dalam, kualitas sumber daya manusia, ketimpangan manfaat pembangunan, daya saing ekonomi, serta pengelolaan sumber daya alam. Ruang ini menempatkan intelektual bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian dari kebutuhan pembangunan.

ISMI hadir dalam ruang tersebut sebagai simpul intelektual berbasis keilmuan dan kebudayaan Melayu. Kehadirannya tidak semata simbolik, melainkan berpotensi menjadi kanal produksi gagasan yang masuk ke ruang kebijakan dan problem publik.

Tema “Berilmu, Beradat, Membangun Peradaban” menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada arsitektur nilai dan pengetahuan. Ilmu, budaya dan pengabdian berada dalam satu garis kerja yang saling menguatkan.

Peran intelektual dalam sejarah sosial selalu ditandai oleh dua fungsi utama, produksi pengetahuan dan pengawalan arah perubahan. Keduanya menempatkan intelektual dalam posisi yang tidak pasif, tetapi terlibat dalam pembentukan cara berpikir publik dan kebijakan.

Namun organisasi intelektual sering berhenti pada siklus seremonial. Forum, seminar dan diskusi tidak selalu berlanjut menjadi intervensi nyata dalam ruang kebijakan dan praktik pembangunan. Dari titik ini, persoalan utama ISMI bukan pada eksistensi, melainkan pada relevansi.

Relevansi organisasi intelektual ditentukan oleh kemampuannya membaca masalah publik secara presisi dan menerjemahkannya menjadi solusi yang dapat dijalankan. Tanpa itu, organisasi hanya menjadi ruang wacana yang berulang.

READ  Reses di Suko Awin Jaya, Joniadi Nainggolan Tegaskan Komitmen Kawal Aspirasi Warga hingga Terealisasi

ISMI memiliki modal institusional yang signifikan. Keragaman latar belakang keilmuan memungkinkan lahirnya kontribusi dalam bentuk kajian kebijakan, riset terapan, literasi publik, pendampingan UMKM, serta penguatan kapasitas masyarakat.

Posisi tersebut menempatkan ISMI sebagai mitra strategis dalam ekosistem pembangunan, bukan dalam relasi kompetitif, tetapi kolaboratif berbasis pengetahuan dan kebutuhan nyata.

Dimensi kebudayaan memperkuat signifikansi tersebut. Jambi tumbuh di atas akar peradaban Melayu yang panjang. Data BPS Provinsi Jambi melalui Provinsi Jambi Dalam Angka 2025 mencatat jumlah penduduk mendekati 3,6 – 3,7 juta jiwa (2024–2025 estimasi BPS), dengan dinamika sosial yang terus meningkat akibat urbanisasi dan mobilitas ekonomi.