Jambi, netinfo.id – Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Adiwangsa Jambi (UNAJA) menggelar prosesi Capping Day bagi mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan, S1 Keperawatan, dan S1 Kebidanan, di Aula Gedung Fakultas Kedokteran UNAJA, pada Rabu (12/02/2026).
Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik mahasiswa sebelum memasuki tahap praktik klinik di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Lebih dari sekadar seremoni, Capping Day merupakan simbol komitmen moral dan profesional mahasiswa untuk mengemban tanggung jawab sebagai calon tenaga kesehatan yang menjunjung tinggi etika, kompetensi, serta keselamatan pasien.
Melalui prosesi ini, mahasiswa secara resmi dinyatakan siap mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan ke dalam praktik nyata di lapangan.
Momentum tersebut juga menegaskan peran institusi pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia kesehatan yang unggul, berintegritas, serta adaptif terhadap dinamika pelayanan kesehatan.
Dengan pembekalan akademik dan pembinaan karakter yang berkelanjutan, para mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat.
Acara tersebut turut dihadiri Direktur Rumah Sakit Royal Prima Jambi, Ketua DPW PPNI Kota Jambi, Ketua PC IBI Kota Jambi, Dekan UNAJA, para Ketua Program Studi, dosen, serta tamu undangan dari berbagai fakultas di lingkungan Universitas Adiwangsa Jambi.
Pada kesempatan itu, juga diberikan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi yang meraih nilai tertinggi pada semester pertama. Mereka adalah Jihan Alya Humaira dari Program Studi Kebidanan dengan IPK 3,90, Sheila Amanda Salsabila Aurellia dari Program D3 Keperawatan dengan IPK 3,89, serta Rizki Adinda Butar Butar dari Program S1 Keperawatan dengan IPK 3,94.
Dalam sambutannya, Rektor UNAJA, Dr. Said Rizal, S.H.I., M.A., menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan tersebut dengan lancar. Ia menuturkan bahwa Capping Day menjadi penanda mahasiswa telah menyelesaikan satu semester pembelajaran selama enam bulan dan siap melangkah ke tahap berikutnya.
“Penyematan simbol ini bukan sekadar seremoni, melainkan pintu gerbang bagi mahasiswa untuk belajar menghadapi lingkungan kampus dan dunia profesi.
Dahulu, untuk mengenakan atribut ini tidaklah mudah karena ada proses pembinaan disiplin, etika, dan karakter. Kini proses tersebut dilakukan melalui metode pembelajaran di masing-masing program studi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa telah mengucapkan janji profesi yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, sumpah profesi bukan hanya diucapkan secara lisan, tetapi harus dihayati dan diamalkan dalam setiap tindakan.











