Paparan udara dengan kualitas buruk dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, balita, lansia, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Gejala ISPA sendiri dapat berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan hingga gangguan pernapasan. Masyarakat yang mengalami keluhan menetap atau semakin berat dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Tak Semua ISPA Disebabkan Asap Karhutla
Meski peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan memburuknya kualitas udara, tingginya angka ISPA dalam data surveilans tidak serta-merta berarti seluruh kasus disebabkan oleh kabut asap karhutla.
ISPA dapat dipicu oleh berbagai faktor. Namun, kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan dan memperburuk keluhan kesehatan pada sebagian masyarakat.
Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker yang sesuai sangat dianjurkan.
Masyarakat juga diminta mencukupi kebutuhan cairan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat untuk membantu menjaga kondisi tubuh.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Jambi masih melakukan sejumlah langkah penanganan dampak kondisi lingkungan. Salah satunya dengan menyediakan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.
Dengan kasus ISPA yang telah menembus angka 10 ribu, kondisi kualitas udara dan kesehatan masyarakat Jambi menjadi perhatian yang perlu terus dipantau, terutama selama ancaman karhutla dan kabut asap masih berlangsung.(*)











