Ekonomi BisnisNasional

Pengamat Nilai 100 Hari Direksi Baru BEI: Lanjutkan Reformasi dan Akselerasi Pendalaman Pasar

×

Pengamat Nilai 100 Hari Direksi Baru BEI: Lanjutkan Reformasi dan Akselerasi Pendalaman Pasar

Sebarkan artikel ini

Pengembangan alternatif strategi transaksi bagi investor juga diperkuat melalui mekanisme Intraday Short Selling (IDSS), yang mulai dapat dilakukan sejak 1 Oktober 2026 dengan dukungan dua Anggota Bursa dan lima saham sebagai underlying awal. Sejak mulai diperdagangkan sampai dengan 8 Oktober 2026, Bursa mencatatkan nilai transaksi short selling rata-rata sebesar Rp1,68 miliar per harinya.

Menurut Eduardus, diversifikasi instrumen dan penambahan alternatif strategi investasi bagi investor merupakan bagian penting dari upaya memperdalam pasar. “Pasar yang semakin dalam membutuhkan lebih banyak cara bagi investor untuk mengambil posisi, melakukan diversifikasi dan melakukan lindung nilai.

Kehadiran ETF Emas dan short selling menunjukkan bahwa Pasar Modal Indonesia mulai bergerak ke arah ekosistem yang lebih lengkap,” tambahnya.

Selain memperluas pilihan instrumen investasi, BEI juga mendorong pengembangan pasar modal yang mendukung pendanaan berkelanjutan melalui peluncuran IDX Green Equity Designation. Inisiatif yang berlaku sejak 31 Juli 2026 ini bertujuan meningkatkan transparansi dan visibilitas saham berbasis hijau, sekaligus memperluas akses Perusahaan Tercatat terhadap investor dan pendanaan berkelanjutan.

Perluasan ekosistem tersebut berjalan beriringan dengan basis investor yang terus bertumbuh di tengah dinamika pasar. Saat ini jumlah investor pasar modal mencapai 32 juta. Pertumbuhan investor tersebut menunjukkan semakin luasnya keterlibatan masyarakat dalam pasar modal sekaligus membuka ruang untuk meningkatkan kualitas partisipasi melalui edukasi, literasi, dan pemahaman investasi jangka panjang.

“Pertumbuhan investor tentu merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan. Ke depan, tantangannya adalah bagaimana investor yang sudah terdaftar ini semakin aktif, semakin memahami instrumen yang digunakan, dan pada akhirnya menjadi investor yang lebih berorientasi jangka panjang,” ungkap Eduardus.

Penguatan ekosistem pasar modal pada akhirnya bermuara pada fungsi yang lebih besar, yakni menyediakan sumber pembiayaan bagi dunia usaha.  Namun, bagi BEI penguatan fungsi pembiayaan juga perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas Perusahaan Tercatat, transparansi kepemilikan, tata kelola, serta penggunaan dana hasil penghimpunan secara produktif.

READ  Hadapi Trek Berlumpur, CRF250R Antar Arsenio ke Podium Kejurnas Motocross 2025

Di balik perkembangan tersebut, BEI juga bergerak pada area yang lebih fundamental, yaitu memperkuat fondasi investability pasar Indonesia. Agenda transparansi kepemilikan, penguatan klasifikasi investor, penerapan Free Float minimum 15%, serta penyempurnaan metodologi HSC merupakan bagian dari reformasi yang dilakukan bersama OJK dan KSEI.

Menurut Eduardus, kombinasi antara transparansi, kualitas pembentukan harga, dan reformasi kelembagaan merupakan elemen yang saling memperkuat. “Investor global tidak hanya melihat besar kecilnya pasar, tetapi juga bagaimana kualitas tata kelola, transparansi kepemilikan, ketersediaan saham publik dan integritas pembentukan harga. Karena itu, langkah-langkah yang dilakukan BEI menyentuh hal-hal yang memang fundamental bagi peningkatan daya saing pasar Indonesia,” ujar Eduardus.

Seratus hari pertama memang belum menjadi titik akhir untuk menilai seluruh dampak reformasi. Namun, periode ini memberikan gambaran mengenai arah yang ingin dibangun: pasar yang lebih transparan, beragam, likuid, dan memiliki basis investor yang semakin luas.

Bagi Eduardus, keberlanjutan reformasi menjadi kunci agar pertumbuhan pasar tidak berhenti pada peningkatan ukuran, tetapi berkembang menjadi pasar yang semakin berkualitas dan dipercaya. “Dengan menjaga momentum reformasi, ambisi untuk menjadikan BEI semakin besar perlu berjalan seiring dengan upaya membangun pasar yang semakin dalam, transparan, likuid, dan dipercaya investor,” pungkas Eduardus.(*)

Editor: redaksi