Dengan penuh kasih, ia dan keluarganya berjuang mengupayakan pengobatan sang ayah meski biaya operasi mencapai enam juta rupiah. Tanpa ragu, Cut Dwi menjual cincin emas kesayangannya demi kesembuhan ayah.
Namun takdir berkata lain. Setelah sempat pulih dan kembali ke rumah, sang ayah akhirnya mengembuskan napas terakhir. “Waktu itu saya sedang bekerja, tiba-tiba om datang ke toko dan bilang ayah meninggal. Rasanya dunia runtuh, tapi saya harus kuat,” kenangnya.
Duka itu tak membuat Cut Dwi menyerah. Justru, dari kehilangan tersebut ia belajar tentang arti tanggung jawab dan keteguhan hati.
“Saya ingin membuat ayah bangga dari surga. Saya ingin terus berjuang sampai bisa kerja di hotel,” katanya penuh keyakinan.
Bagi Cut Dwi, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia percaya, setiap langkah kecil yang ia tempuh adalah bagian dari perjalanan besar menuju masa depan yang lebih baik.
“Kalau nanti saya berhasil kerja di hotel, saya akan bilang ke diri saya sendiri: kamu hebat, sudah berjuang sejauh ini,” ucapnya dengan senyum yang tulus.
Cut Dwi adalah bukti bahwa mimpi tidak mengenal batas fisik. Dengan dukungan keluarga dan semangat yang tak pernah padam, ia terus menapaki jalan menuju cita-citanya menjadi bagian dari dunia perhotelan yang selalu ia impikan.(*)











