Dalam perkembangannya, pupuik batang padi juga dapat dimodifikasi dengan cara melubangi batang padi di beberapa bagian, seperti pada seruling. Teknik menutup dan membuka lubang ini memungkinkan pemain menghasilkan variasi nada dan ritme yang berbeda.
Tradisi memainkan alat musik ini mulai berkembang di Nagari Pauh sejak kedatangan masyarakat dari Solok. Pupuik batang padi biasanya dimainkan pada siang atau sore hari sebagai hiburan sekaligus penanda kegiatan sosial masyarakat.
Kini, keberadaan pemain pupuik batang padi semakin jarang ditemui. Alat musik ini umumnya tampil pada kegiatan adat tertentu seperti babako, arak-arakan pengantin, atau prosesi budaya yang diiringi talempong dan gendang.
Indah atau tidaknya suara yang muncul dari pupuik batang padi sangat tergantung pada kemampuan pemain dalam mengikuti irama dan melodi alat musik pengiring lainnya.
Pupuik batang padi bukan sekadar alat musik sederhana, tetapi warisan budaya Minangkabau yang mencerminkan kreativitas, kecerdasan lokal, dan hubungan harmonis masyarakat dengan alam.
Upaya pelestarian diperlukan agar suara khas pupuik batang padi tetap bertahan dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.(*)











