Peserta workshop diharapkan mampu menjadi pihak yang mengedukasi calon pekerja migran Indonesia, khususnya mereka yang ingin bekerja di Taiwan,
supaya mereka tidak terjebak oleh ‘janji manis’ para calo dan tidak terjerumus ke dalam praktik kerja paksa, hingga mengetahui apa yang harus dilakukan saat menghadapi situasi tertentu.
Program pemberdayaan disusun berdasarkan fakta bahwa masih banyak pekerja migran yang belum bisa membedakan antara menagih haknya atau melawan.
Alhasil, mereka kerap pasrah saat menerima gaji di bawah standar yang sudah ditetapkan, enggan menolak saat diminta oleh majikannya untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaan utamanya, hingga memilih jalur ilegal karena tidak tahu harus melakukan apa saat menghadapi masalah.
Selain itu, mereka juga akan menerima pelatihan seputar bagaimana cara warga Taiwan mengolah sampah. Di luar workshop, para mahasiswa akan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.
Kedua, program pendidikan dengan menggandeng SDN Juntiweden II. Para siswa akan diajarkan membuat kaligrafi Mandarin, membaca buku berbahasa Mandarin, hingga bermain board game bersama.
Interaksi seperti ini diharapkan bisa menjadi stimulus agar mereka ingin pergi ke luar negeri untuk belajar, bukan hanya untuk bekerja di sektor informal. Program ini disusun dengan mempertimbangkan fakta banyak siswa-siswi di Indramayu yang tidak lagi tertarik menempuh pendidikan tinggi.
Mereka lebih tertarik untuk langsung bekerja di luar negeri walaupun di sektor informal, asalkan gajinya lebih tinggi daripada bekerja di Indonesia dengan kemampuan yang relatif terbatas.
Vanny El Rahman adalah peneliti doktoral di Asia-Pacific Regional Studies, National Dong Hwa University (NDHU), Taiwan.**











