JAKARTA, netinfo.id – Kawasan Timur Tengah masih belum kondusif untuk terciptanya perdamaian saat ini, terutama karena sikap kolonialisme Israel yang menyebabkan perang tanpa henti, baik dalam pencaplokan Palestina maupun serangan ke Iran.
Demikian salah satu perspektif dari empat pembicara dalam Webinar Internasional bertajuk “Understanding Contemporary Middle East Dynamics: Israeli Colonialism in Palestine, Gulf Strategic Policies, and Iran’s Nuclear Trajectory” pada 13 Mei 2026 yang diselenggarakan oleh Asia Middle East for Research and Dialogue (AMEC).
Keterangan pers AMEC yang disiarkan Jumat (15/5) menyebutkan, webinar yang dibuka oleh Direktur Eksekutif AMEC Dr. Muslim Imran itu sendiri dihadiri sekitar 30 peserta, sebagian dari Malaysia dan dimoderatori oleh alumni Cambridge University Inggris, Mumtaza Chairannisa.
Disebutkan pula, faktor lain yang mempengaruhi ketidakstabilan di Timur Tengah adalah ambisi Amerika untuk memainkan aktor dominan di Timur Tengah dengan menghadirkan Board of Peace (BOP) yang tidak menyertakan wakil Palestina.
Selain itu kehadiran Iran yang memiliki kekuatan militer berarti tidak bisa dikalahkan meski sudah diserang dalam dua bulan terakhir ini oleh AS dan Israel. Kondisi perang regional inilah yang menyebabkan keinginan Palestina merdeka semakin sulit.
Masa Sulit bagi Palestina
Dalam webinar tersebut, Prof M. Hamdan Basyar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memfokuskan kepada perkembangan Palestina yang merupakan sumber instabilitas Timur Tengah karena genosida Israel dan pengusiran bangsa Palestina.
Dengan menempatkan Gaza di Bawah pengelolaan Board of Peace-nya Donald Trump dan didukung Resolusi PBB, secara efektif kawasan ini berada dalam Perwalian Baru atau protektorat modern.
Kerangka kerja yang diusulkan dalam resolusi ini sangat ambisius: gencatan senjata permanen, rekonstruksi besar-besaran, dan yang paling penting pembentukan pemerintahan transisi internasional melalui Board of Peace dan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF).
Secara eksplisit, resolusi ini menangguhkan peran Otoritas Palestina (PA) di Gaza hingga mereka menyelesaikan program reformasi yang dianggap “memuaskan.”
Prof. Hamdan memaparkan, pemerintahan sehari-hari nanti akan dijalankan oleh sebuah komite teknokrat Palestina di bawah pengawasan ketat BoP, sebuah badan yang dipimpin tokoh politik Amerika, Donald J. Trump, sebuah representasi dramatis dari dominasi kepentingan eksternal.
IJalan menuju kemerdekaan Palestina yang diakui sebagai sebuah “aspirasi” dibuat sangat bersyarat oleh BoP, bergantung pada penilaian subjektif kekuatan-kekuatan luar.
Prof. Hamdan mempertanyakan bagaimana tata kelola, keamanan, dan arsitektur politik-ekonomi yang diusulkan oleh Resolusi 2803 (2025) memengaruhi prospek terwujudnya negara Palestina yang berdaulat, merdeka, dan mandiri, terutama jika dilihat melalui lensa kegagalan historis dan fragmentasi struktural yang ada.
Israel terlibat perang terus menerus
Mengenai situasi Timur Tengah yang masih jauh dari perdamaian, Dubes RI untuk Iran dan Turkmenistan (2012-2026) Dian Wirengjurit menyoroti Israel yang beroperasi di bawah klaim ancaman eksistensial, dengan membingkai postur militernya sebagai sesuatu yang bersifat defensif.
Namun, ketika diperiksa secara komparatif, khususnya terhadap Iran yang secara serupa memposisikan dirinya sebagai kekuatan minoritas di lingkungan regional yang tidak bersahabat, justifikasi ini menjadi semakin sulit untuk dipertahankan.
Berbeda dengan Iran, Israel telah terlibat secara terus-menerus dalam konflik militer aktif, baik secara ofensif maupun defensif terhadap berbagai aktor di seluruh kawasan.
Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan kritis mengenai apakah perilaku militer Israel benar-benar mencerminkan kebutuhan defensif, atau justru mencerminkan agenda yang jauh lebih luas dan melampaui sekadar upaya mempertahankan diri.











