Di tengah carut-marut ini, keberadaan oknum pemulung turut memperparah keadaan. Demi menyambung hidup, mereka mengais tumpukan sampah, memilah barang bernilai.
Namun tak sedikit yang meninggalkan sampah dalam kondisi lebih berantakan dari sebelumnya. Tumpukan yang awalnya sudah terkumpul, justru diacak-acak lalu ditinggalkan begitu saja, memperdalam kesan kumuh dan tak terurus.
Ini adalah ironi. Di satu sisi, mereka berjuang untuk bertahan hidup. Namun di sisi lain, tanpa kesadaran dan tanggung jawab, aktivitas tersebut justru menambah luka bagi wajah kota.
Persoalan sampah kini menjadi bom waktu yang terus berdetak. Sebagian masyarakat memilih menyalahkan pemerintah, menilai penanganan yang dilakukan belum maksimal. Namun kenyataannya, masalah ini bukan hanya soal kebijakan melainkan juga tentang kepedulian yang kian memudar.
Jika kesadaran tak kunjung tumbuh, jika aturan terus diabaikan, dan jika semua pihak saling lepas tanggung jawab, maka bukan tidak mungkin Kota Jambi akan terus tenggelam dalam tumpukan sampahnya sendiri pelan, namun pasti.(*)











