“Karena itu, saya datang ke Bappenas untuk menyampaikan komitmen tersebut agar pemerintah pusat dapat memberikan dukungan.
Apalagi program hilirisasi ini sejalan dengan program Bapak Presiden, sehingga kami optimistis rencana ini dapat direalisasikan,” ujar Dillah.
Ia berharap pemerintah pusat dapat mendorong masuknya investasi, baik skala besar maupun menengah, dalam pengembangan hilirisasi kelapa dalam. Selain itu, Dillah juga menekankan pentingnya dukungan terhadap pembangunan tanggul khusus perkebunan yang menyasar kebun-kebun kelapa dalam milik masyarakat.
Keseriusan pemerintah daerah dalam mendukung hilirisasi telah diwujudkan melalui program pembangunan 1.000 kilometer tanggul. Dari target 200 kilometer per tahun, pada tahun pertama kepemimpinan Dillah Hikmah Sari–Muslimin Tanja telah terealisasi sepanjang 357,21 kilometer.
“Kami berupaya memperkuat petani melalui perbaikan tanggul, mendorong peremajaan tanaman, serta menghadirkan industri menengah dan besar yang diharapkan dapat menstimulasi UMKM.
Dengan demikian, kelapa dalam sebagai salah satu komoditas unggulan dapat menjadi penopang kuat perekonomian masyarakat. Kami juga telah memiliki varietas unggul bersertifikat yang diberi nama Varietas Zabak,” ungkap Dillah.
Dillah memastikan bahwa setiap investasi yang masuk dalam program hilirisasi kelapa dalam akan mendapatkan berbagai kemudahan dari pemerintah daerah.
Terkait kekhawatiran investor terhadap ketersediaan bahan baku, ia menegaskan bahwa mekanisme pasar tetap menjadi acuan. Pemerintah daerah tidak akan melakukan intervensi, namun investor dapat menjalin kerja sama melalui kelompok tani atau koperasi.
“Kita memiliki Koperasi Merah Putih yang dapat menjadi mitra tripartit bersama petani dan pengusaha. Silakan sepanjang sesuai koridor aturan dan berorientasi pada keuntungan bersama,” pungkas Dillah.**









