Puncak peristiwa terjadi ketika Lutfi mendekati gurunya dengan maksud meminta penjelasan jujur di hadapan siswa. Namun, menurut pengakuannya, respons yang diterima justru berupa kekerasan fisik.
“Saya ditinju duluan di bagian hidung. Teman-teman saya melihat semua kejadian itu,” tegasnya.
Aksi tinju tersebut sontak memicu reaksi spontan siswa lain yang kemudian berujung pada pengeroyokan terhadap sang guru. Lutfi menegaskan, insiden itu tidak akan terjadi apabila tidak ada tindakan kekerasan lebih dulu.
“Kalau beliau tidak meninju duluan, tidak mungkin ada pengeroyokan. Saksi banyak,” katanya.
Diketahui, insiden ini terjadi pada Selasa siang, 13 Januari 2026, di lingkungan sekolah. Meski sempat dilakukan upaya mediasi, penyelesaian damai tak tercapai.
Sang guru kini telah melaporkan kejadian tersebut secara resmi ke Polda Jambi, sementara para siswa berharap fakta kejadian dapat dibuka secara adil dan menyeluruh.(*)











