EkonomiNews

OJK Dorong Penguatan Pasar Obligasi dan Keuangan Berkelanjutan di Kawasan ASEAN

×

OJK Dorong Penguatan Pasar Obligasi dan Keuangan Berkelanjutan di Kawasan ASEAN

Sebarkan artikel ini

Sementara itu, Direktur Strategi Pembiayaan dan Investasi Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Mada Dahana, menyampaikan bahwa keuangan berkelanjutan merupakan bagian dari strategi utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.

Menurutnya, pemerintah telah mengembangkan berbagai inisiatif pembiayaan, antara lain sukuk, obligasi tematik seperti obligasi SDGs dan obligasi biru, serta skema pembiayaan gabungan (blended finance) untuk mendukung proyek-proyek yang sejalan dengan SDGs.

Namun demikian, masih terdapat tantangan berupa keterbatasan kapasitas pendanaan, sehingga diperlukan peran serta dan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan.

Berdasarkan Sustainable Development Report 2025, Indonesia memperoleh skor 70,2, berada di atas rata-rata global sebesar 69,5. Indonesia juga telah mencapai 61,4 persen dari 23 indikator penilaian SDGs.

Selain itu, Indonesia memiliki rencana jangka panjang dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yang menjadi sinyal positif bagi sektor swasta dan institusi lainnya untuk berinvestasi dalam agenda pembangunan nasional.

Rangkaian kegiatan 45th ASEAN+3 Bond Market Forum (ABMF) Meeting and Other Events diselenggarakan selama tiga hari, pada 2 – 4 Februari 2026, secara hybrid dan diikuti oleh sekitar 200 peserta dari seluruh negara anggota ASEAN+3 serta para pemangku kepentingan kawasan.

Dalam rangkaian acara tersebut, OJK juga menyelenggarakan Indonesia Session berupa diskusi panel yang bertujuan menyampaikan perkembangan terkini Pasar Modal Indonesia dengan mengusung tema strategis, yaitu

“Integrating Sustainable Finance in Indonesia’s Economic Development and Asia’s Growth” serta “Developing Local Currency Bond Market: Market Integration and Stakeholder Synergy”.

Narasumber dalam sesi tersebut berasal dari ADB, Kementerian Keuangan, Bappenas, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI), serta organisasi internasional seperti International Capital Market Association (ICMA) dan Nomura Asset Management.

READ  BREAKING NEWS: Romi Hariyanto Resmi Nahkodai PSI Jambi, Siap Bawa Angin Segar Politik Perubahan

Selain ABMF, turut diselenggarakan Joint 34th Cross-Border Settlement Infrastructure Forum (CSIF) dan 3rd Digital Bond Market Forum (DBMF) yang melibatkan negara-negara ASEAN+3.

Secara umum, DBMF akan berfokus pada pembahasan aset digital, sementara CSIF menitikberatkan pada studi kasus bisnis nyata untuk mendorong transaksi lintas batas, khususnya obligasi pemerintah, serta memperkuat keterkaitan antara bank sentral dan lembaga penyimpanan serta penyelesaian efek terpusat di kawasan ASEAN+3.(*)