Batanghari, netinfo.id – Di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok, khususnya cabai, Nurjana (50), warga RT 03 Kelurahan Pasar Muara Tembesi, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari, membuktikan bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari rumah sendiri.
Ibu rumah tangga ini telah menanam cabai secara mandiri di teras rumahnya sejak sekitar tiga hingga empat bulan terakhir.
Dengan memanfaatkan pot, polybag, hingga karung bekas beras, Nurjana berhasil mengubah lahan sempit menjadi sumber pangan keluarga yang sehat dan berkelanjutan.
Menanam cabai bagi Nurjana bukan sekadar hobi, tetapi juga langkah cerdas untuk menjaga ketahanan pangan keluarga.
Dengan menanam sendiri, ia memiliki kendali penuh atas proses budidaya, mulai dari pemilihan benih hingga perawatan tanaman, tanpa ketergantungan pada pestisida kimia.

“Awalnya itu mamak yang nanam cabainya. Kebetulan waktu itu kami libur, bibitnya sudah disemai dan tumbuh, jadi kami lanjutkan tanam.
Lama-lama jadi hobi juga karena mamak ibu rumah tangga, jadi ada kesibukan menanam tanaman hortikultura di rumah,” ujar salah satu anaknya.
Beragam jenis cabai ditanamnya, mulai dari cabai rawit seperti cabai geprek, cabai mahkota dompol, hingga cabai rawit dusun. Semua ditanam di pot dan polybag karena keterbatasan lahan, lalu diletakkan di teras rumah yang mendapat cukup sinar matahari.
Dalam perawatannya, Nurjana menerapkan cara sederhana dan ramah lingkungan. Tanaman disiram setiap pagi dan sore hari menggunakan air bekas cucian beras. Selain itu, ia rutin menambahkan tanah agar pertumbuhan cabai tetap optimal.
Untuk pemupukan, Nurjana hanya menggunakan pupuk organik dari kotoran ternak.
“Kami pakai pupuk kandang saja, tidak pakai pupuk kimia. Hasilnya lebih sehat dan aman dikonsumsi keluarga,” katanya.
Menurut Nurjana, menanam cabai sendiri memiliki banyak manfaat. Selain menjamin kesegaran dan cita rasa cabai yang lebih pedas dan aromanya kuat, cara ini juga mampu menghemat pengeluaran dapur.
Dengan memiliki tiga hingga lima pohon cabai yang produktif, kebutuhan cabai harian keluarga sudah dapat terpenuhi.
“Tidak perlu lagi ke pasar cuma beli segenggam cabai. Selain hemat uang belanja, juga hemat ongkos dan mengurangi polusi,” tambahnya.
Iklim Indonesia yang kaya sinar matahari menjadi faktor pendukung utama keberhasilan budidaya cabai di pekarangan rumah. Selain produktif, tanaman cabai dengan buah berwarna hijau hingga merah juga mempercantik tampilan rumah.
Tak hanya cabai, Nurjana dan keluarga juga menanam berbagai tanaman lain seperti serai, jahe merah, daun pandan, daun jeruk purut, dan tomat untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, hasil panen kerap dibagikan kepada tetangga yang membutuhkan.
“Kalau ada tetangga mau, ya kita kasih saja,” ucapnya.
Nurjana pun membagikan pesan dan motivasi bagi masyarakat yang ingin mulai menanam sendiri di rumah.
“Jangan menunggu punya lahan luas. Banyak orang menunda menanam karena merasa tidak punya kebun, padahal cabai bisa tumbuh subur di pot atau polybag bekas,” tuturnya.
Ia juga menyarankan agar masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia di dapur.
“Tidak harus beli benih mahal. Ambil cabai merah yang tua dan sehat, ambil bijinya, jemur sebentar, lalu semai. Alam sudah menyediakan modalnya secara gratis,” katanya.
Menurutnya, menanam cabai juga bisa menjadi “asuransi” saat harga di pasar melonjak.
“Kita semua tahu harga cabai sering naik tidak terkendali. Dengan menanam sendiri, kita punya ‘toko cabai’ pribadi yang selalu buka di halaman rumah,” ujar Nurjana.
Ia menegaskan bahwa kegagalan dalam menanam bukan alasan untuk menyerah.
“Kalau tanaman pertama layu atau kena hama, jangan putus asa. Menanam itu proses belajar. Setiap daun dan bunga yang jadi buah memberi kepuasan batin yang tidak bisa dibeli di supermarket,” pungkasnya.(*)











