“Program membatik ini kami jalankan secara berkelanjutan sebagai bentuk pembinaan ekonomi kreatif. Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan kreativitas,” ujar Jailani, Selasa, 02 Desember 2025.
Sementara itu, Kasubsi Sarana Kerja, David Gokma Evendy Marbun, mengungkapkan bahwa pihaknya terus meningkatkan fasilitas produksi untuk mendukung kualitas dan nilai ekonomi batik yang dihasilkan WBP.
“Kami terus memaksimalkan sarana pembinaan agar proses membatik berjalan efektif. Hasil batik WBP kini semakin rapi dan memiliki nilai jual, sehingga dapat mendukung motivasi mereka untuk terus berkarya,” jelas David.
Melalui program ini, Lapas Kelas IIA Jambi menargetkan WBP memiliki kompetensi ekonomi kreatif yang aplikatif,
sehingga mampu membuka peluang usaha mandiri maupun bekerja setelah masa pidana berakhir, sekaligus memperkuat proses reintegrasi sosial dan ekonomi mereka di tengah masyarakat.(*)











