“Saya siap menerima kritik. Justru dari situlah kami bisa tahu kekurangan dalam pelayanan dan segera melakukan perbaikan,” tambahnya.
Sebagai putra daerah Jambi dengan pengalaman panjang di dunia pemasyarakatan, Syahroni mengaku memahami betul dinamika yang terjadi di dalam lapas. Ia juga menyoroti tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pendekatan humanis dan ketegasan dalam pembinaan warga binaan.
“Kita tidak bisa terlalu keras, tapi juga tidak boleh terlalu lembut. Harus ada keseimbangan. Di situlah peran kami menjaga harmoni, baik dengan warga binaan, pegawai, maupun masyarakat,” jelasnya.
Ia pun berharap sinergi antara lapas dan media dapat terus terjalin dengan baik, demi menciptakan suasana yang kondusif dan transparan.
“Intinya, damai itu indah. Damai bagi media, damai bagi kami. Dengan komunikasi yang baik, semua bisa berjalan harmonis,” tutupnya.(*)











