Pantauan di lokasi menunjukkan suasana yang awalnya berlangsung meriah berubah menjadi lebih intens di sesi akhir. Lampu sorot berkelap-kelip, irama musik elektronik menghentak, serta penonton yang larut dalam euforia pesta memicu perdebatan di media sosial.
Sejumlah warganet menyebut acara tersebut “tidak etis” dan “kurang menghormati suasana menjelang bulan suci.” Tak sedikit pula yang mempertanyakan konsep acara dan perizinan yang diberikan kepada panitia.
Mereka menilai penyelenggara seharusnya lebih mempertimbangkan norma sosial serta kultur daerah sebelum menentukan format hiburan, terutama saat berdekatan dengan momentum sakral keagamaan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak penyelenggara yakni R & C.
Peristiwa ini menjadi catatan penting bagi para penyelenggara event di Jambi agar lebih bijak membaca momentum dan menjaga keseimbangan antara hiburan dan nilai-nilai kearifan lokal, khususnya menjelang bulan suci Ramadan.(*)











