Jakarta, netinfo.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar pertemuan dengan Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) dalam rangka menjelaskan berbagai langkah tindak lanjut pelaksanaan reformasi penguatan integritas pasar modal Indonesia.
Pertemuan tersebut berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, dan dihadiri oleh Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal,
Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, Ketua AEI Armand Wahyudi Hartono, Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, serta jajaran pejabat OJK, BEI, dan pengurus AEI.
Hasan Fawzi menyampaikan bahwa diskusi dalam pertemuan tersebut berlangsung secara konstruktif, khususnya dalam membahas percepatan reformasi penguatan integritas pasar modal nasional, termasuk kebijakan peningkatan porsi saham publik (free float) menjadi sebesar 15 persen.
“Dalam pertemuan ini, para emiten yang tergabung dalam AEI menyampaikan komitmen dukungan yang komprehensif terhadap arah kebijakan tersebut. Dukungan ini tidak hanya terkait peningkatan free float, tetapi juga mencakup sejumlah pilar penting dalam penguatan integritas pasar modal,” ujar Hasan.
Hasan menegaskan bahwa kebijakan peningkatan free float merupakan bagian integral dari agenda reformasi pasar modal Indonesia yang bertujuan memperkuat struktur pasar,
meningkatkan likuiditas, memperluas basis investor publik, serta mendorong penerapan tata kelola emiten yang semakin baik dan transparan.
Menurut Hasan, penerapan free float yang lebih terbuka dan memadai diharapkan dapat meningkatkan partisipasi publik dalam kepemilikan saham, memperkuat kontrol publik terhadap emiten, serta meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor institusional global.
Pada kesempatan yang sama, Ketua AEI Armand Wahyudi Hartono menyampaikan bahwa AEI mendukung penerapan kebijakan free float yang dilakukan secara bertahap dan terukur dengan tetap memperhatikan kesiapan emiten serta kondisi pasar.
“Secara umum kami mendukung upaya OJK dan Self-Regulatory Organization (SRO) untuk mendorong pasar modal Indonesia menjadi lebih tangguh,” ujar Armand.











