Dalam perspektif politik, ini adalah wajah telanjang dari pseudo-activism aktivisme palsu yang hanya berani ketika aman, dan hanya menyerang ketika ada kepentingan. Aktivisme jenis ini bukan lagi alat kontrol kekuasaan, melainkan sudah menjadi bagian dari permainan kekuasaan itu sendiri.
Lebih berbahaya lagi, publik sedang ditipu. Ditipu dengan narasi keberanian. Ditipu dengan citra kritis. Padahal yang bekerja di balik itu adalah kepentingan yang rapi dan terorganisir.
Kritik selektif adalah propaganda. Ia bukan mencari kebenaran, tetapi mengarahkan persepsi.
Hukum memang mengajarkan asas praduga tak bersalah.
Namun jangan disalahgunakan: asas ini bukan tameng untuk diam terhadap pihak tertentu, dan bukan pula senjata untuk menyerang pihak lain secara sepihak. Jika satu nama layak dikritik karena isu publik, maka semua nama dalam kondisi yang sama wajib diperlakukan dengan standar yang sama.
Tanpa pengecualian. Tanpa kompromi. Penutup
Sudah cukup publik dibodohi oleh aktivisme yang berpura-pura netral.
Aktivis yang hanya berani menggonggong ke satu arah, tetapi membisu ke arah lain, bukan penjaga demokrasi mereka adalah penjaga kepentingan.
Jangan lagi bicara moral jika kritik masih bisa dinegosiasikan. Jangan lagi bicara keadilan jika keberanian masih bisa dipilih-pilih.
Karena pada akhirnya, aktivisme yang tunduk pada kepentingan bukanlah suara rakyat Melainkan alat kekuasaan yang menyamar dalam bahasa perlawanan.(*)











