DaerahEkonomiNews

Harga Cabai Rawit di Jambi Tembus Rp 100 Ribu, Tekanan Inflasi Pangan Menguat

×

Harga Cabai Rawit di Jambi Tembus Rp 100 Ribu, Tekanan Inflasi Pangan Menguat

Sebarkan artikel ini

Jambi, netinfo.id – Harga cabai rawit di Pasar Kebun Kopi, Kota Jambi, melonjak tajam hingga mencapai Rp 100.000 per kilogram dalam beberapa hari terakhir.

Kenaikan signifikan ini menambah tekanan pada kelompok bahan pangan, yang menjadi salah satu pendorong inflasi daerah menjelang akhir tahun.

Imas, salah seorang konsumen, mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang begitu cepat. “Saya beli pagi tadi sudah Rp 100 ribu per kilo kaget sekali. Kalau terus naik begini, bukan hanya sayur, lauk pun pasti ikut mahal,” ujarnya.

Ia mengaku kini harus berhemat dengan membeli cabai dalam jumlah minimal.

Pasokan Menipis, Distribusi Terganggu

Salah satu pedagang di Pasar Kebun Kopi menyebut, penyebab utama lonjakan harga adalah menipisnya pasokan cabai rawit di tingkat distributor.

Faktor cuaca yang tidak menentu serta distribusi yang tersendat ikut memperburuk kondisi di lapangan.

Situasi tersebut membuat cabai rawit yang biasanya menjadi komoditas harian dengan harga relatif stabil menjadi barang langka. Pedagang mengaku kesulitan memenuhi permintaan, sementara konsumen terpaksa menyesuaikan daya beli.

Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat melakukan intervensi, terutama pada jalur distribusi dan stabilisasi pasokan, agar harga bisa kembali terkendali.

Harga Cabai Merah Keriting Ikut Naik, Subsidi Hanya Bertahan Sehari

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai rawit. Di Pasar Angso Duo Jambi, harga cabai merah keriting kembali naik menjadi Rp 68.000 per kilogram pada Rabu (3/12/2025).

Menurut Ana, pedagang cabai setempat, harga sempat turun ke level Rp 50.000 per kilogram pada Senin (1/12/2025), berkat adanya subsidi pasokan cabai merah dari pemerintah.

“Setiap pedagang kemarin dapat 30 kilogram cabai merah. Itu yang bikin harga turun,” jelasnya.

READ  Real Madrid Bungkam Athletic Club 3-0, Namun Cedera Alexander-Arnold dan Camavinga Jadi Catatan Kelam

Namun, harga rendah tersebut hanya bertahan satu hari. Setelah suplai subsidi habis, harga kembali naik mengikuti kondisi pasar.

Ana mengungkapkan sebagian besar pasokan cabai di Pasar Angso Duo berasal dari Pulau Jawa. Ketidakstabilan pasokan dari daerah penghasil membuat harga di tingkat pedagang mudah berfluktuasi.

Dampak Ekonomi dan Harapan Konsumen

Lonjakan harga cabai yang merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi pangan diperkirakan dapat mempengaruhi harga kebutuhan pokok lainnya.

Dengan pasokan yang belum stabil, konsumen berharap pemerintah segera mengambil langkah pengendalian, baik melalui operasi pasar, penambahan pasokan, maupun perbaikan distribusi.

Warga berharap situasi segera pulih agar dapur tetap panas tanpa membuat dompet ikut “kepanasan”.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *